Kamis, 17 November 2016

penerapan 5 R




  • Reduce berarti kita mengurangi sampah yang kita hasilkan atau mengurangi penggunaan bahan-bahan yang bisa merusak lingkungan. Reduce dilakukan dengan cara : kurangi belanja barang-barang yang kamu yang tidak “terlalu” dibutuhkan seperti baju atau celana baru, aksesoris-aksesoris, kurangi penggunaan kertas tissue dengan menggantinya dengan sapu tangan karena akan dapat dipakai ulang dengan mencucinya, kurangi penggunaan kertas di kantor dengan melakukan print preview sebelum mencetak, biasakan membaca koran online, karena semua itu nanti ujung-ujungnya akan menjadi sampah.
  • Reuse sendiri berarti menggunakan kembali seperti baju lama kamu bisa digunakan kembali dengan merubah model atau menambah kain dari baju-baju bekas yang akhirnya kelihatan menarik dan kamu bisa pakai kembali atau baju lama kamu bisa  kamu berikan kepada orang lain yang membutuhkan.
  • Recycle adalah mendaur ulang barang. Paling mudah adalah mendaur ulang sampah organik di rumahmu, misalnya  bekas botol plastik air minum bisa kamu gunakan sebagai pot tanaman, atau kamu bisa juga mendaur ulang kertas bekas untuk digunakan sebagai bahan kerajinan. Pernahkah kamu melihat tempat yang berdampingan dengan tulisan Organik dan Anorganik? Tujuannya adalah sebisa mungkin kamu bisa memisahkan sampah organik (biasa disebut sebagai sampah basah) dan sampah anorganik (sampah kering). Sampah organik adalah sampah yang terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang berasal dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan, rumah tangga atau yang lain. Sampah ini dengan mudah diuraikan dalam proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik, misalnya sampah dari dapur, sayuran, kulit buah, dan daun. Sampah jenis ini dapat terdegradasi (membusuk/ hancur) secara alami. Sedangkan sampah anorganik berasal dari sumber daya alam tak terbarui seperti mineral dan minyak bumi, atau dari proses industri. Beberapa dari bahan ini tidak terdapat di alam seperti plastik dan aluminium. Sebagian zat anorganik secara keseluruhan tidak dapat diuraikan oleh alam, sedang sebagian lainnya hanya dapat diuraikan melalui proses yang cukup lama. Sampah jenis ini pada tingkat rumah tangga, misalnya berupa botol kaca, botol plastik, tas plastik, dan kaleng.

  • Replace, yaitu mengganti atau menghindari barang yang sekali pakai dengan barang yang bisa dipakai berulang-ulang. Misalnya membawa kantong sendiri saat belanja. Cara tersebut efektif untuk mengurangi sampah plastik dari bungkus belanjaan.

  • Repair yaitu memperbaiki barang-barang yang rusak agar dapat dipakai kembali. dengan langkah tersebut, kamu tak perlu membeli barang-barang baru lagi karena barang lama masih bisa dipakai.

UPAYA-UPAYA PENANGGULANGAN DAN PENCEGAHAN BENCANA ALAM


UPAYA-UPAYA PENANGGULANGAN DAN PENCEGAHAN

BENCANA ALAM

Image result for gambar bencana alam

   Kerusakan lingkungan semakin hari semakin terlihat jelas. Perlu kitanya kita memikirkan upaya apa saja yang akan kita lakukan untuk memperbaiki lingkungan kita agar terciptanya K3 (ketertiban, kebersihan, dan keindahan). Langkah awal melakukan perbaikan dapat dilakukan dengan cara memperhatikan keadaan lingkungan sekitar kita dahulu, baru kemudian lingkup nasional.

A.    Upaya-upaya Penanggulangan Bencana Alam
  • Mitigasi
Mitigasi dapat juga diartikan sebagai penjinak bencana alam, dan pada prinsipnya mitigasi adalah usaha-usaha baik bersifat persiapan fisik, maupun non-fisik dalam menghadapi bencana alam. Persiapan fisik dapat berupa penataan ruang kawasan bencana dan kode bangunan, sedangkan persiapan non-fisik dapat berupa pendidikan tentang bencana alam.
  • Menempatkan Korban di Suatu Tempat yang Aman
Menempatkan korban di suatu tempat yang aman adalah hal yang mutlak diperlukan. Sesuai dengan deklarasi Hyogo yang ditetapkan pada Konferensi Dunia tentang Pengurangan Bencanadi Kobe, Jepangpertengahan Januari 2005 yang lalu. Berbunyi : “Negara-negara mempunyai tanggung jawab utama untuk melindungi orang-orang dan harta benda yang berada dalam wilayah kewenangan dan dari ancaman dengan memberikan prioritas yang tinggi kepada pengurangan resiko bencana dalam kebijakan nasional, sesuai dengan kemampuan mereka dan sumber daya yang tersedia kepada mereka”.
  • Membentuk Tim Penanggulangan Bencana
  • Memberikan Penyuluhan-penyuluhan
  • Merelokasi Korban Secara Bertahap
Akibat kompleknya permasalahan pascabencana, maka dibuatlah panduan internasional mengenai prinsip-prinsip perlindungan pengungsi. Sebagai contoh, misalnya pasal 18 ayat (2) , Pasal 23 dinyatakan setiap manusia memiliki hak atas pendidikan ayat (1) dan pada ayat (2) dan masih banyak lagi pasal lain yang menekankan perlunya ditindaklanjuti pemberian perlindungan terhadap para pengungsi, baik yang disebabkan oleh bencana alam atau ulah manusia, termasuk konflik bersenjata atau perang.

B.     Upaya-Upaya Pencegahan Bencana Alam
·         Membuat Pos Peringatan Bencana
      Salah satu upaya yang keudian dapat diupayakan adalah dengan mendirikan pos peringatan bencana, pos inilah yang nantinya menentukan warga masyarakat bisa kembali menempati tempat tinggalnya atau tidak.


·         Membisaakan Hidup Tertib dan Disiplin
      Perlu pola hidup tertib, yaitu dengan menegakkan peraturan-peraturan yang berhubungan dengan pelestarian lingkungan hidup. Asal masyarakat menaatinya, berarti setidaknya kita telah berpartisipasi dalam melestarikan lingkungan. Masyarakat juga harus disiplin.

Penyebab Dan Cara Mengatasi Abrasi


Penyebab Dan Cara Mengatasi Abrasi



A. Penyebab Abrasi
Abrasi adalah proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak. Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai. Kerusakan garis pantai akibat abrasi ini dipacu oleh terganggunya keseimbangan alam daerah pantai tersebut.
Abrasi pantai diakibatkan oleh dua faktor utama yang disebabkan oleh aktivitas manusia yaitu;
  • Peningkatan permukaan air laut yang diakibatkan oleh mencairnya es di daerah kutub sebagai akibat pemanasan global.
  • Hilangnya vegetasi mangrove (hutan bakau) di pesisir pantai. Sebagaimana diketahui, mangrove yang ditanam di pinggiran pantai, akar-akarnya mampu menahan ombak sehingga menghambat terjadinya pengikisan pantai. Sayangnya hutan bakau ini banyak yang telah dirusak oleh manusia.
Selain itu dapat juga diakibatkan oleh faktor bencana alam seperti tsunami. Rusaknya bibir pantai di perairan Indonesia akibat abrasi itu tidak terlepas dari geologi, kekuatan ombak laut serta pusaran angin.
 
B. Cara Mengatasi Abrasi
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi (paling tidak menghambat) masalah abrasi pantai ini, yaitu:
  • Pemerintah harus segera secara bertahap melakukan pembangunan alat pemecah ombak, revetment, dan pembentukan tembok laut (groin).
  • Penanaman pohon mangrove, melestarikan hutan pantai, memelihara dan melestarikan kawasan pantai seperti batu dan komponen sekitar pantai.
  • Peran serta penduduk lokal dan masyarakat sekitar pantai sangat di harapkan untuk mengatasi masalah abrasi pantai, oleh karena itu perlu adanya kesadaran dari setiap orang dengan pihak terkait untuk selalu memahami betapa pentingnya masalah ini, sehingga ditemukan solusi terbaik untuk mengatasi abrasi pantai

CARA MENGURANGI POLUSI UDARA


CARA MENGURANGI POLUSI UDARA  - Inilah cara untuk mencegah pencemaran udara disekitar anda yang saat ini memang sudah jarang dilakukan, entah karena faktor kesibukan atau karena keadaan masa bodoh manusia. Hal ini bukan disampaikan seorang dokter yang mengatakan "mencegah lebih baik dari pada mengobati", namun ini harusnya menjadi semboyan kita semua terutama dalam hal pelestarian lingkungan.

Bagaimana kita tanggap terhadap pencemaran udara dan melakukan tindakan kecil yang memiliki dampak besar terhadap dunia.


Berikut ini ada cara mengurangi polusi udara :

-Menanam dan merawat tumbuhan di lingkungan sekitar kita.
Walau pun seberapa luas dan lebarnya taman di rumah kita atau  Tempat keja dan sekolahan, Hal ini berguna untuk menyejukan udara, Dan mengurangi polusi udara di sekitar kita. Jika ada lahan kosong anda bisa menanam tumbuhan disitu
-Gunakan Kendaraan yg ramah Lingkungan seperti sepeda,dokar, becak, jika Kamu ingin menggunakan motor atau pun mobil, Pengecekan lah mesin terdahulu supaya Mesin kendaraan bagus dan menguragi polusi udara.
-Gunakan Bahan bakar yg ramah lingkungan .
-Lakukan Gerakan menanam Pohon di pinggir jln Yang berkordinasi dengan dinas tatakota.
-Gunakan tranportasi umum seperti ankot, busway dll, jika tdk perlu sekali simpan lah kendaraan pribadi anda dirumah dan gunakan transportasi umum yg ada. ini akan membantu mengurangi polusi udara.
-Ikutlah komunitas bersepeda. alat kendaraan yg ramah lingkungan ini akan membantu anda mengurangi polusi udara yg ada

cara menanggulangi kebakaran hutan


10 Cara Mencegah Kebakaran Hutan
10 Cara Mencegah Kebakaran Hutan
Kebakaran hutan merupakan hal yang berbahaya karena hal ini akan mempengaruhi keseimbangan ekosistem. Dengan terbakarnya hutan, maka banyak pohon yang mati begitu juga dengan binatang. Dengan berkurangnya pohon, lapisan ozon kita akan semakin menipis karena gas karbondioksida semakin banyak dan oksigen semakin berkurang. Dengan banyaknya binatang yang mati maka keseimbangan ekosistem akan terganggu. Umumnya, kebakaran hutan terjadi pada musim kemarau dan terjadi dengan begitu cepat sehingga menimbulkan kerusakan yang sangat parah bagi lahan pertanian dan kehutanan.

Ada 10 cara yang disajikan untuk mencegah kebakaran hutan.

1. Memperingatkan warga sekitar hutan untuk tidak membakar rumput atau puing-puing.
Sebagian warga yang tinggal disekitar hutan kadang tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang hutan khususnya tentang penyebab kebakaran hutan. Sebagian dari mereka membakar rumput atau puing-puing reruntuhan di dekat hutan ketika musim kemarau datang. Musim kemarau yang diiringi dengan angin kencang bisa dengan mudah menyebarkan api dari puing-puimg tersebut membakar hutan sekitar. Sehingga penting bagi petugas kehutanan untuk memberi penyuluhan dan memperingati warga untuk tidak membakar apapun di dekat hutan.
2. Memeriksa peraturan setempat tentang perijinan dan pembatasan larangan pembakaran.
Peraturan tersebut biasanya disusun oleh departemen kehutanan dan sumber daya alam. Peraturan tersebut mencakup peraturan tentang jarak aktifitas pembakaran rumput atau puing-puning dari hutan, peraturan tentang kegiatan kemping dan perijinan untuk menyalakan api unggun serta memasak di dekat hutan, dan peraturan bagi pekerjaan yang dilakukan di wilayah perhutanan.
3. Melakukan aktivitas pembakaran minimal dengan jarak yang telah ditentukan.
Jarak minimal yang harus diperhatikan untuk melakukan pembakaran terhadap sampah atau puing-puing adalah minimal 50 kaki dari bangunan dan 500 kaki dari hutan.
4. Memastikan api tersebut mati setelah melakukan pembakaranterhadap rumput dan puing-puing sebelum warga meninggalkan tempat pembakaran. Dan membersihkan area pembakaran tadi dari bahan-bahan yang mudah terbakar.
5. Jangan melakukan aktifitas pembakaran ketika cuaca berangin.Ketika cuaca berangin, pohon –pohon di hutan akan bergoyang dan akan membuat api semakin besar, yang akibatnya bisa membahayakan hutan itu sendiri.
6. Menyiapkan peralatan pemadam kebakaran seperti sebuah pipa air yang terhubung dengan air atau setidaknya tersedia 5 galon air dan sebuah sekop. Semuanya harus berada di dekat tempat pembakaran sebagai tindakan ketika terjadi hal yang tidak diinginkan.
7. Jangan meroko ketika melakukan kerjaan atau kegiatan yang dilakukan di hutan. Ketika pekerja atau petugas kehutanan yang melakukan pekerjaannya di hutan dan mengharuskan mereka untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya, mereka harus mematikan roko mereka, karena meroko akan sangat berbahaya bagi keselamatan hutan.
8. Mobil, truk, dan mesin harus memiliki sistem tempat pembuangan uap ketika beroperasi di dekat hutan. Penahanan uap atau gas dari kendaraan di atas menjadi persyaratan bagi kendaraan tersebut yang akan memasuki wilayah perhutanan.
9. Menghubungi departemen perhutanan setempat atau penjaga hutan setempat ketika tampak tanda-tanda kebakaran.
10. Warga dan petugas kehutanan harus saling bekerja sama untuk menjaga hutan di sekitar tempat kediaman mereka.
pencegahan hutan dari kebakaran merupakan hal penting yang harus dipelajari dan diketahui oleh warga dan petugas yang tinggal di wilayah sekitar hutan. Kadang hal kecil yang dianggap sepele menjadi penyebab terjadinya kebakaran hutan yang menghabiskan biaya besar dan menyebabkan kerusakan ekosistem yang fatal. Sehingga penting bagi siapapun memiliki pengetahuan tentang hal-hal yang akan menyebabkan hutan kebakaran.

pemanfaatan rawa



Pengelolaan air dalam pemanfaatan lahan rawa

Ekosistem dan Produktivitas

Ekosistem lahan rawa bersifat marjinal dan rapuh yang rentan terhadap perubahan baik oleh karena faktor alam (kekeringan, kebakaran, dan kebanjiran), maupun karena faktor kesalahan pengelolaan (reklamasi, pembukaan, budidaya intensif).

Jenis tanah di kawasan rawa tergolong tanah bermasalah yang mempunyai banyak kendala. Misalnya tanah gambut mempunyai sifat kering tak balik (reversible drying), mudah ambles (subsidence), dan penurunan kadar hara (nutrients deficiency). 

Tanah gambut mudah berubah menjadi bersifat hidrofob (takut air) apabila mengalami kekeringan. Gambut yang menjadi hidrofob tidak dapat lagi mengikat air dan hara secara optimal seperti kemampuan semula.

Selain itu, khusus tanah suffidik dan tanah sulfat masam mudah berubah apabila teroksidasi. Lapisan tanah (pirit) yang teroksidasi mudah berubah menjadi sangat masam (pH 2--3).

Hasil penelitian dan pengkajian menunjukkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian di lahan rawa diperlukan pendekatan yang menyeluruh menyangkut perbaikan lahan dan kemampuan sosial ekonomi masyarakat setempat. Selain tanaman pangan seperti padi, palawija, dan umbi-umbian dan perkebunan seperti karet, kelapa, dan kelapa sawit, beberapa tanaman sayur mayur dan buah-buahan dapat ditanam dengan pengelolaan yang baik.

Akan tetapi produktivitas tanaman yang dapat dicapai di lahan rawa sangat tergantung pada tingkat kendala dan ketepatan pengelolaan. Namun pada umumnya petani dalam penanganan pasca panen termasuk pengelolaan hasil masih lemah. Selain itu juga pemasaran hasil yang terbatas sehingga masih diperlukan dukungan kelembagaan yang baik dan profesional serta komitmen pemerintah provinsi, kabupaten/kota dalam meningkatkan kesejahteraan petani rawa.


Bagaimana memajukan pertanian lahan rawa?

Pemahaman mendalam tentang sifat dan perilaku lingkungan fisik seperti tanah, air dan lainnya, sangat diperlukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi budidaya dan pengelolaan lahan rawa meskipun tersedia banyak, tetapi perubahan sifat-sifat tanah dan lingkungan dapat berlangsung cepat dan sangat berpengaruh terhadap produktivitas.

Sehingga diperlukan siasat untuk mengatasinya secara dini. Keadaan ini memerlukan pemantauan secara terus menerus sehingga pengawalan secara ketat terhadap penerapan teknologi dan pengelolaan selanjutnya sangat diperlukan.

Lahan rawa yang dibuka mudah menjadi lahan bongkor. Perubahan ini tidak diperkirakan sebelumnya. Kesan ini tampak karena sebagian lahan mengalami pengatusan berlebih (overdrainage), muka air turun di bawah lapisan pirit setelah direklamasi. 

Gambut menjadi kering tak balik (ineversibe drying) dan hidrofob (takut air) setelah diusahakan. Keadaan ini memacu terjadinya kemasaman, penurunan hara, dan peningkatan pelolosan (exhausted) hara, serta peningkatan kelarutan racun beserta asam-asam organik.

Pengembangan lahan rawa mempunyai banyak keterkaitan dengan gatra lingkungan yang sangat rumit karena hakekat rawa selain mempunyai fungsi produksi juga fungsi lingkungan. 

Apabila fungsi lingkungan ini menurun maka fungsi produksi akan terganggu. Oleh karena itu perencanaan pengembangan rawa harus dirancang sedemikian rupa untuk memadukan antara fungsi lahan sebagai produksi dan penyangga lingkungan agar saling menguntungkan atau konpersatif.  Selain itu, selalu   memperhatikan prinsip tata air yang berlaku untuk lahan rawa

Rancangan semacam inilah yang memungkinkan untuk tercapainya pertanian berkelanjutan di lahan rawa.


Prinsip tata air untuk lahan rawa

Prinsip penting yang harus diterapkan jika akan berhasil bertani di lahan rawa adalah pengelolaan air atau sering disebut tata air  bukan hanya dimaksudkan untuk menghindari terjadinya banjir atau genangan yang berlebihan di musim hujan. Juga harus dimaksudkan untuk menghindari kekeringan di musim kemarau.

Selain itu, juga untuk menghindari bahaya kekeringan lahan sulfat masam dan lahan gambut.  

Untuk melakukan pengelolaan air dalam suatu kawasan yang luas harus membuat jaringan reklamasi sehingga keberadaan air bisa dikendalikan. Ada tiga jenis tata air untuk lahan rawa yaitu tata air makro, tata air mikro, dan tata air dalam lahan pertanaman. Seluruhnya terkait satu sama lainnya dan dilakukan pengelolaan dalam suatu kawasan yang luas.

Oleh karena kawasannya yang luas, maka pembangunan dan pemeliharaannya harus dilaksanakan secara kolektif.


Tata air makro

Lahan rawa memerlukan tata air makro dengan membuat saluran drainase dan irigasi yang terdiri atas saluran primer, sekunder, dan tersier.

Saluran drainase dibuat guna menampung dan menyalurkan air yang berlebihan dalam suatu kawasan ke luar lokasi. Sebaliknya saluran irigasi dibuat untuk menyalurkan air dari luar lokasi ke suatu kawasan untuk menjaga kelembaban tanah atau mencuci senyawa-senyawa beracun.

Oleh sebab itu, pembuatan saluran drainase harus dibarengi dengan pembuatan saluran irigasi.

Selain itu, perlu dibangun tanggul penangkis banjir di sepanjang saluran karena drainase saja sering tidak mampu mengatasi luapan air musim hujan. 

Kemudian diperlukan waduk retarder atau chek dam yaitu waduk yang dibuat di lahan rawa lebak atau lebak peralihan. Fungsi waduk ini untuk menampung air di musim hujan, mengendalikan banjir, dan menyimpannya untuk disalurkan di musim kemarau.

Selain itu, juga diperlukan  saluran intersepsi yang berfungsi untuk menampung aliran permukaan dari lahan kering di atas lahan rawa. Letaknya pada perbatasan antara lahan kering dan lahan rawa. Saluran ini sering dibuat cukup panjang dan lebar sehingga menyerupai waduk panjang. Apabila ada kelebihan air akan disalurkan melalui bagian hilir ke sungai sebagai air irigasi.


Tata air mikro

Tata air mikro ialah pengelolaan air pada skala petani. Dalam hal ini, pengelolaan air dimulai dari pengelolaan saluran tersier serta pembangunan dan pengaturan saluran kuarter dan saluran lain yang lebih kecil.

Saluran tersier umumnya dibangun oleh pemerintah tetapi pengelolaannya diserahkan kepada petani.

Pengelolaan air di tingkat petani bertujuan untuk mengatur agar setiap petani memperoleh air irigasi dan membuang air drainase secara adil. Untuk itu diperlukan organisasi di tingkat desa.

Kemudian, pengelolaan di tingkat petani juga menciptakan kelembaban tanah di lahan seoptimal mungkin bagi pertumbuhan tanaman serta mencegah kekeringan lahan sulfat asam dan lahan gambut.



Tata air dalam lahan pertanaman

Kuarter merupakan saluran di luar pertanaman yang paling kecil. Di dalam lahan, dibuat saluran drainase intensif yang terdiri dari saluran kolektor dan saluran cacing.

Pengaturan lahan dapat ditata dengan sistem caren dan surjan. Pada sistem ini saluran drainase intensif dibuat setelah selesai pembuatan

Sedangkan, pada lahan yang ditata dengan sistem sawah dan tegalan, pembuatan saluran setelah pengolahan tanah.

Saluran kolektor dibuat mengelilingi lahan. Untuk saluran kolektor yang berhubungan dengan saluran irigasi diberi pintu pada bagian hulu. Sedangkan saluran kolektor yang berhubungan dengan saluran drainase diberi pintu pada bagian hilir. 

Pintu cukup dibuat dengan cara menggali tanggul dan dapat ditutup sewaktu-waktu dengan cara menimbun kembali.

Sedangkan posisi saluran cacing sebaiknya dibuat tegak lurus dengan saluran kolektor.


Air merupakan unsur penting bagi tanaman. Di samping berfungsi langsung dalam proses pertumbuhan, air juga berfungsi dalam mengendalikan gulma, mencuci senyawa-senyawa beracun, dan menyuplai unsur hara.

Sementara di sisi lain, air juga menjadi kendala jika keberadannya tidak diatur dan kualitasnya menjadi kurang baik atau beracun.

Oleh sebab itu, pengelolaan air dalam pertanian lahan rawa perlu mendapatkan perhatian secara serius dan kolektif.